Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik–rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor, terdengar suara tek…tek….tek… Suara tukang bakso dorong lewat.
Sambil menyeka keringat, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak–anak, “Siapa yang mau bakso?” “Mauuu…”, secara serempak dan kompak anak–anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, saya membayarnya. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan di laci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang–uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan?”
“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain, tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita–cita penyempurnaan iman.“
“Maksudnya?”, saya melanjutkan bertanya.
”Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut:
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari–hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang, yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.”
Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.
Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut: ”Iya memang bagus, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…”
Emang menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.
Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
“Masya Allah…sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso.”
Sahabat… Cerita ini sangat sederhana. Namun, semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amin
Sumber artikel klik disini
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 November 2014
Selasa, 04 November 2014
Postingan Salah Seorang Kaskuser Soal Gaji
Kuliah TInggi-tinggi, gaji lebih gedean buruh ??Membahas tentang dunai kerja memang selalu akan menarik, apalagi tentang adil atau tidaknya salari yang kita dapat dari tempat kita bekerja jika dikaitkan dengan kemampuan, jam kerja, atau latar belakang pendidikan yang kita punya. Bagi ane (anak pertama), atau beberapa dari agan2 yang terlahir dari keluarga yang biasa2 saja dengan Ibu atau Bapak yang hanya berpendidikan sampai SMP, pasti orang tua menginginkan agar anaknya mampu sekolah lebih tinggi dari mereka, bahkan kalau bisa sampe ke bangku kuliah, tujuannya tidak lain adalah agar sang anak dapat mempunyai kemampuan tertentu yang itu nanti bisa membantunya di dunia kerja, mendapat upah yang layak, dan pada akhirnya memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun, terkadang hidup tidak sesuai dengan apa yg direncanakan. "Kuliah Sudah, Bekerja Sudah, TAPI Gaji Masih Gedean Buruh ??" itulah kalimat yang ane dapat dari beberapa temen ane yang udah lulus kuliah dan sudah bekerja di bidang mereka masing2.
Ane tekankan bahwa disini ane tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan jenis pekerjaan, pertanyaannya,Apakah salah jika gaji seorang sarjana lebih rendah daripada seorang buruh ? tukang parkir ? tukang bangungan ? mari kita berfikir secara logis.
Sebelumnya, ane tinggal di Yogyakarta, dimana biaya hidup disini masih relatif murah. Sekarang Ane mau share pengalaman kerja (gaji) ane dan beberapa temen ane. Untuk yang pertama, Ane ceritakan pengalaman kerja temen2 ane yang bergelar diploma ataupun sarjana.
Baca cerita selanjutnya klik disini
Kamis, 27 Maret 2014
Lakukan Hal-hal Ini Agar Otak Tak Lagi Lemot
Agar tubuh tetap sehat maka diperlukan olahraga yang teratur. Nah hal tersebut juga
diperlukan oleh otak. Agar proses berpikir bisa lebih cepat, maka ada beberapa
hal yang bisa dilakukan untuk melatihnya.
Proses
berpikir yang cepat bisa membantu meningkatkan kemampuan orang dalam melakukan
banyak tugas diwaktu yang sama. Untuk mencapai hal tersebut, butuh pelatihan
otak sederhana namun efektif sehingga kebugaran pikiran meningkat.
Dilansir dari
Timesofindia, berikut 10 hal yang bisa dilakukan agar otak tidak lemot dan
dapat berpikir cepat:
1. Lakukan seni
Seni adalah
sumber latihan yang membantu meningkatkan bagian di otak yang bekerja
mengekspresikan diri secara non-verbal. Seni membuat orang jadi kreatif,
menggunakan keterampilan motorik halus dan berpikir analitis.
2. Memperluas kosa kata
Membaca
artikel, berita atau novel bisa membantu mempelajari kata-kata baru yang
sebelumnya tidak akrab didengar. Teknik ini akan membantu mempertajam memori
dan meningkatkan kosakata.
3. Gunakan tangan yang tidak dominan
Saat
melakukan tugas dasar yang membutuhkan konsentrasi, cobalah menggunakan tangan
yang tidak dominan. Kegiatan ini akan memerlukan perhatian ekstra sehingga
membuat diri lebih fokus menyelesaikan tugas-tugas sederhana.
4. Jangan gunakan kalkulator
Untuk
perhitungan dasar atau harian sebaiknya jangan menggunakan kalkulator, tapi
pilihlah metode kuno seperti menghitung dengan jari atau menghitungnya di
kepala. Ini adalah cara yang sangat umum untuk menjaga otak tetap aktif.
5. Belajar bahasa asing
Mempelajari
bahasa asing baru tidak hanya bisa meningkatkan karir profesional dan
pengetahuan baru, tapi juga menjadi sumber latihan untuk pikiran karena menjaga
otak tetap sibuk.
Selamat
mencoba, Dreamers!
Selasa, 05 Februari 2013
Tips bikin seneng istri
Mulailah dari yang paling sederhana dl gan...
- ucapin iLove you setiap ada kesempatan, paling bagus pas bangun tidur dan sebelum tidur gan.. kebiasaan ini biasa dilakukan pasangan baru, biasanya gak bertahan lama gan kebiasaab spt ini.... sederhana aja gan jaga kebiasaan ini selamanya..
- memberi sebelum dia meminta,
sikap cowo biasanya tergolong cuek.. Disini titik fokusnya gan bro gan bro disini harus lebih perasa.. jika diperlukan.. share sama nyokap pasangan.. biasanya nyokap tahu betul apa yg diinginkan anak gadisnya..

- berikan rasa gan...jangan berikan opini berpikir, karena pada dasarnya cewek itu perasa bukan pemikir.. jika ada masalah gan, cukup agan jadi pendengar setia aja, jangan menyeka pembicaraannya jangan pula menasehatinya gan.... peluk gan cium keningnya.. sambil berkata " sayang kamu tidak sedirian, aku selalu ada bersamamu" ...

- Ramaikan suasana yang sepi jangan pake BOM gan.. Cukuplah pake lilin..
pointnya jangan berbicara kasar / membentak gan.. pantang bagi laki-laki berbicara kasar / membentak.. jika agan emosi.. diam saja dl.. tunggu emosi reda. sampaikan dengan penuh kasih sayang gan.. belum selesai ngomong gan.. eh bibir doi udah nempel aja di bibir gan..
- bahagia seperti air mengalir gan, jangan menembok air yang mengalir karena itu alan meluap...
intinya begini gan, jangan pernah memaksa.. bahagia itu tanpa paksaan gan.. so, jika agan berpikir pasangan agan merahasiakan sesuatu, keep calm gan, gak usah di cerca, gak usah memaksa doi buat jujur, karena suatu saat nanti doi akan ngomong dengan sendirinya. jika doi merasa itu waktu yang tepat. dia akan tersenyum kepada agan.. Dan berkata.. kamu pria terbaik dlm hidupku.. *kemudian matiin lampu gan*
- doi akan bahagia tanpa tuduhan gak beralasan,
Jadi bengini... jangan menuduh gan.. Knp begitu.. jika tuduhan agan tidak bener.. doi akan nglakuin tuduhan agan itu... sebagai balasan karena agan main tuduh sembarangan...

misal agan menuduh doi selingkuh, padahal engga.. doi kemungkinan akan selingkuh beneran gan.. bahaya bukan?
mending agan tetep seperti biasa aja, misal pun doi bener2 selingkuh, dia akan sangat merasa bersalah gan.. kayak cut tari.. liat suaminya..dia bukan laki-laki biasa, dia pria hebat gan.. *mudah2 gak homo ya gan...
singkat kata dia akan sangat bahagia dengan apa yang agan lakukan,,,
Sumber artikel klik disini
Kamis, 22 September 2011
Blog Baru
Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang tak henti-hentinya memberikan berbagai karunia dan nikmatnya kepada kita semua. Terinspirasi dari sebuah buku yang berjudul "CURAHKAN GAIRAH MENULIS" karya Ratna Dewi Pudiastuti, akhirnya saya membangun blog baru yang insya Allah nantinya akan difokuskan untuk latihan menulis artikel.Bismillahi tawakkaltu 'alallah laahaula walaa quwwata illaa billah. Link-nya menyusul ya..!!
Selasa, 04 Mei 2010
Berani Bermimpi!
Setiap kita pasti memiliki impian, bahkan mungkin banyak diantara impian-impian kita merupakan impian yang cukup gila. Namanya juga mimpi, kalo biasa-biasa saja sih mending bermimpi di atas tempat tidur saja hehe. Tidak ada salahnya jika kita bermimpi ingin menjadi seorang presiden, tidak salah pula jika kita bermimpi menjadi pengusaha sukses dengan aset tersebar di berbagai negara. Sebuah pepatah mengatakan "bermimpilah setinggi-tingginya, karena esok adalah misteri". Salah seorang pembaharu muslim dari mesir pernah berkata "mimpimu hari ini adalah kenyataan hari esok".
Mimpi saja tentunya tidak cukup, harus ada usaha dan doa untuk menggapai mimpi-mimpi kita. Jangan pernah menyerah ketika kita terjatuh sekali atau bahkan berkali-kali, berusahalah untuk tetap tegar dan mengambil hikmah dari setiap kegagalan. Kegagalan hanyalah bumbu penyedap dalam perjalanan menuju impian kita.
So, bermimpilah kawan! Semoga Allah merangkul mimpi-mimpi kita.Amin.
Minggu, 11 April 2010
Tidak ada kata sulit untuk mengatakan "Bismillah, saya memutuskan untuk...."
Pernahkah kita mendengar sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa hidup adalah pilihan. Ya, memang dalam setiap detik kehidupan kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan yang beraneka ragam. Beberapa orang mantap menentukan sebuah pilihan, sedangkan beberapa yang lain terkadang masih ragu dan malu-malu dalam menentukan pilihan.
Untuk menentukan sebuah pilihan, seseorang harus memiliki keberanian tersendiri. Namun keberanian saja tidak cukup dalam menentukan sebuah pilihan, kita juga harus mempertimbangkan banyak hal sebelum menentukan sebuah pilihan. Tanyakanlah pada diri kita, apa keuntungan bagi saya jika saya memilih A, apa kerugian bagi saya jika saya memilih A, apa konsekuensi bagi saya jika saya memilih A, tahapan apa saja yang harus saya lakukan jika saya memilih A, dimana saya harus memposisikan diri saya jika saya memilih A, harus jadi apa saya 5 tahu kedepan jika saya memilih A, dan berbagai pertanyaan yang mungkin akan menjadi pertimbangan untuk kita.
Jika anda seorang muslim, ada baiknya sebelum menentukan pilihan anda melakukan shalat istikhoroh terlebih dahulu. Nah, jika kita sudah merasa mantap barulah kita mengatakan "Bismillah, saya memutuskan untuk...."
Jangan pernah merasa sok pintar jika kita memang tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Lebih baik dianggap bodoh daripada dianggap sok tahu.Selamat menentukan pilihan!Bismillahirrohmanirrohiim!
Untuk menentukan sebuah pilihan, seseorang harus memiliki keberanian tersendiri. Namun keberanian saja tidak cukup dalam menentukan sebuah pilihan, kita juga harus mempertimbangkan banyak hal sebelum menentukan sebuah pilihan. Tanyakanlah pada diri kita, apa keuntungan bagi saya jika saya memilih A, apa kerugian bagi saya jika saya memilih A, apa konsekuensi bagi saya jika saya memilih A, tahapan apa saja yang harus saya lakukan jika saya memilih A, dimana saya harus memposisikan diri saya jika saya memilih A, harus jadi apa saya 5 tahu kedepan jika saya memilih A, dan berbagai pertanyaan yang mungkin akan menjadi pertimbangan untuk kita.
Jika anda seorang muslim, ada baiknya sebelum menentukan pilihan anda melakukan shalat istikhoroh terlebih dahulu. Nah, jika kita sudah merasa mantap barulah kita mengatakan "Bismillah, saya memutuskan untuk...."
Jangan pernah merasa sok pintar jika kita memang tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Lebih baik dianggap bodoh daripada dianggap sok tahu.Selamat menentukan pilihan!Bismillahirrohmanirrohiim!
Minggu, 03 Februari 2008
PEMILU AMERIKA DAN KOMUNITAS MUSLIM
Berbicara tentang komunitas Muslim di Amerika tentu berbicara tentang sesuatu yang selalu hangat untuk dibahas. Sejak kejadian 11 September, komunitas Muslim Amerika menjadi sorotan oleh berbagai kalangan, khususnya kalangan media massa. Oleh karenanya, isu komunitas Muslim di Amerika memang tidak pernah membosankan untuk didiskusikan.
Tragedi 11 September, bagi komunitas Muslim memang menjadi awal mala petaka yang hampir tidak berkesudahan. Tidak saja karena memang tidak sedikit juga dari kalangan umat Islam yang menjadi korbannya.
Tapi yang paling menyakitkan adalah seolah umat ini tidak menjadi bagian dari korban (victims). Bahkan sebaliknya, dituduh atau minimal dipersepsikan secara sistimatis sebagai pelaku, sponsor, atau menyetujui dan senang dengan kewajiban tersebut.
Sejak itu pula komunitas Muslim berada pada posisi “depensive”, dan dari hari ke hari semakin tersudutkan. Tersudutkan oleh berbagai kebijakan pemerintah, tersudutkan oleh pemberitaan media massa, tersudutkan oleh imej dan persepsi masyarakat luas tentang agama mereka, dan bahkan tersudutkan oleh persepsi mereka terhadap diri mereka sendiri. Maksud saya, karena sedemikian dahsyatnya berbagai tuduhan itu, seolah semua itu menjadi kebenaran mutlak yang tidak mungkin di tantang (challenged) , dan karenanya harus diterima apa adanya, termasuk oleh kaum Muslim sendiri.
Afiliasi Partai
Secara umum, masyarakat Muslim di Amerika tidak berafiliasi buta kepada salah satu dari dua partai politik besar Amerika, Demokrat dan Republikan.
Sebagian memang ada yang demokrat, seperti warga Muslim Afro Americans. Namun tidak sedikiti juga yang berafiliasi ke partai Republikan.
Mereka yang memilih berafiliasi dengan partai Demokrat menilai bahwa partai ini dalam sejarahnya memang lebih bersahabat dengan warga minoritas, termasuk di
dalamnya umat Islam. Selain itu, dari perspektif idiologi, kaum Demokrat tidak dibajak oleh idiologi Kristen fundamentalis dalam kebijakan-kebijakan nya.
Di lain pihak, mereka yang memilih untuk berafiliasi dengan partai republikan didorong oleh pandangan-pandangan konservatisme Repubikan dalam berbagai isu sosial, isu aborsi dan perkawinan sejenis misalnya. Bahwa secara moral, idiologi partai Republikan lebih cenderung kepada konsep-konsep agama secara umum.
Namun dapat dipastikan, pada pemilu kali ini mayoritas, jika tidak semuanya, pemilih dari kalangan komunitas Muslim akan memilih calon dari Demokrat.
Sebabnya adalah prustrasi dan perasaan kecewa yang sangat dalam atas apa yang dianggap oleh komunitas Muslim sebagai “pengkhianatan” capres Republikan ketika itu, George W. Bush. Kumpulan suara (block voting) umat Islam di tahun 2000 yang diberikan kepada calon presiden Bush ketika itu, ternyata dikhianati oleh Presiden Bush dengan berbagai kebijakan di kemudian hari yang merugikan umat Islam.
Br. Habib Ahmed adalah Presiden dari ICLI (Islamic Center of Long Island) dan Dr. Wadud Bhuya adalah Presiden dari JMC (Jamaica Muslim Center) adalah contoh hal di atas. Keduanya adalah registered republicans. Tapi keduanya ikut pada acara temu muka dengan wakil-wakil dari capres dari partai Demokrat baru-baru ini dan masing-masing menyatakan mendukung salah satu dari dua calon kuat partai Demokrat itu.
Prustrasi dan kekecewaan masyarakat Muslim kepada pemerintahan Bush berdampak luas kepada pandangan dan sikap mereka dalam pemilu kali ini. Untuk itu, dapat dipastikan bahwa mayoritas, jika tidak semuanya, suara umat Islam akan diberikan kepada calon dari partai Demokrat kali ini. Dalam sebuah pertemuan yang dikelolah oleh American Muslim Democratic Club baru-baru ini yang dihadiri wakil-wakil dari Barack Obama, Hillary Clinton dan John MacCain, hadir beberapa Muslim yang registered Republicans tapi menyatakan akan memilih Demokrat pada pemilihan presiden mendatang.
Penentuan pilihan
Dalam politik ternyata memang ada gap (jurang) antara idealisme dan realita. Idealnya umat Islam harus memiliki calonnya sendiri untuk maju ke perebutan kursi kepresidenan. Sayang, realita mengatakan bahwa hal itu masih belum memungkinkan, dan barangkali justeru akan merugikan komunitas Muslim itu sendiri.
Kerugian yang kita maksud tentunya adalah, selain umat Islam memang belum siap bersatu di bawah satu atap partai politik, juga karena tingkat kesalah pahaman masyarakat kepada agama ini dan pemeluknya sangat tinggi.
Maka, memaksakan diri untuk memiliki calon sendiri sama dengan melakukan sesuatu yang sia-sia. Namun demikian, di sisi lain sebenarnya ada positifnya.
Dengan adanya calon yang beragama Islam, masyarakat Amerika akan melihat agenda sesungguhnya yang ada di benak kaum Muslimin. Bahwa kaum Muslimin dalam melakukan perjuangan tidak ekslusif, tapi sebaliknya, bertujuan untuk memperjuangkan “American interest” (kepentingan Amerika). Dan ini akan membangun “trust” (kepercayaan) di kalangan masyarakat Amerika untuk calon-calon masa depan, sekaligus dapat membangun “self confidence” (percaya diri) umat islam itu sendiri.
Namun secara realita, nampaknya memang belum masanya untuk memajukan calon dari kalangan warga Muslim.
Maka, yang paling realistik untuk dilakukan oleh masyarakat Muslim adalah memilih calon presiden yang paling dekat kepada idelisme dan cita-cita Islam.
Kalau ternyata secara idealisme tidak ada, maka yang dipilih adalah calon yang kecil mudharatnya. Maksud saya adalah calon yang kira-kira tidak menempatkan umat Islam pada sisi yang beseberangan, khususnya dalam konteks perang terhadap terorisme.
Dari semua ini, nampaknya pilihan masyarakat Muslim Amerika kali ini memang menjadi pilihan yang dilematis. Dari seluruh kandidat yang ada, nampaknya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Maka, untuk menentukan pilihannya, komunitas Muslim akan melihat secara teliti siapa di antara kandidat yang paling paling sedikit mudharatnya (akhaf ad dhoraraen).
Sebagaimana disebutkan terdahulu, secara pertimbangan moral sosial, komunitas Muslim cenderung untuk memilih kadindat Republikan yang dinilai lebih konservativ.
Tapi dengan melihat kepada berbagai relaita pahit yang terjadi saat ini, khususnya jika melihat kepada kebijakan luar negeri, dan lebih khusus lagi relasinya dengan perang Timur Tengah dan isu Israel-Palestina, juga termasuk apa yang disebutkan sebagai “war on terrorism” nampak bahwa capres dari partai Demokrat jauh lebih bersahabat.
Kandidat Demokrat dalam berbagai visinya dapat dikatakan lebih “manusiawi” (humanis) dan rasionaol dalam menawarkan berbagai kebijakan luar negerinya.
Sementara capres dari partai Republikan lebih kaku dan dahkan cenderung tidak rasional, dan lebih berbahaya, mereka sangat dipengaruhi oleh idiologi Kristen radikal, Evangelist, yang memang pendukung utama negara Israel.
Hillary atau Barack?
Dengan mundurnya John Edward dari persaingan pencalonan dari partai Demokrat, kini tinggal dua kandidat dari partai ini yang akan dipilih. Dari kedua calon ini, manakah yang lebih cenderung dipilih oleh masyarakat Muslim?
Menimbang-nimbang dua kandidat ini memang cukup rumit. Secara umum, masyarakat Muslim cenderung untuk menjatuhkan pilihannya pada Barack Obama.
Pertimbangannya bukan karena ras, gender, dan bukan pula karena adanya keterkaitan latar belakang keluarga ayah Obama yang Muslim. Tapi memang visi yang diajukan Obama nuansanya lebih menjamin perubahan yang dijanjikan.
Barack Obama memang memiliki daya tarik luar biasa. Umurnya yang masih relative muda, cerdik dan tajam dalam menganalisa berbagai isu yang ada. Walaupun ada kekhawatiran bahwa Obama masih kurang berpengalaman, namun melihat kepada pandangan-pandangan nya yang tajam mengurangi kekhawatiran tersebut. Memang dalam berbagai debat politiknya, isu “experience versus judgment” menjadi isu hangat. Hillary merasa lebih berpengalaman, tapi sebaliknya Obama yakin dengan pandangan-pandangan nya yang lebih akurat.
Selain itu, penentangan Obama kepada perang Iraq dari awal juga memberikan kontribusi yang besar dalam kampanyenya. Sementara Hillary dipaksa oleh situasi untuk menyesali dukungannya kepada presiden Bush untuk menyerang Iraq di masa lalu. Hillay berada pada posisi defensive jika dihadapkan kepada realita bahwa dirinya pernah mendukung penyerangan Iraq dengan mengatakan “kalau saja saya tahu ketika itu bahwa akibatnya seperti saat ini, pasti saya tidak akan memberikan dukungan saya”. Sayang pernyataan itu oleh sebagian dinilai “nasi sudah terlanjur menjadi bubur”.
Hal lain yang menjadikan sebagian besar masyarakat Muslim mendukung Obama adalah sikapnya yang selalu mendahulukan “diplomasi” di atas penyelesaian militer.
Bahkan dalam banyak kesempatan, Obama selalu mengatakan “we must be courageous to speak to our friends and to our enemies”. Keinginan baik untuk membangun komunikasi ini sendiri, termasuk dengan mereka yang dianggap musuh-musuh Amerika seperti Iran, adalah sikap positif. Komunitas Muslim cukup muak dengan kebijakan luar negeri Bush yang selalu mengedepankan aksi militer.
Di lain pihak, memang ada kekhawatiran dari beberapa kalangan bahwa Obama kemungkinan besar tidak akan terpilih. Alasannya, Amerika belum siap dipimpin oleh seseorang non White (selain warga kulit putih). Hal ini mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Jika kita melihat kepada kepada demografi pemilih Obama, juga tidak kurang dari warga kulit putih yang memilihnya.
Contoh terdekat barangkali adalah IOWA. Sebaliknya, ada juga kekhawatiran bahwa Amerika hingga kini belum siap dipimpin oleh seorang wanita.
Pada akhirnya memang, calon pemilih sibuk mendiskusikan antara pengalaman Hillary dan ketajaman “pertimbangan” (judgment) Obama. Hillary yang dianggap telah lama melanglang buana di Washington DC, sejak sebagai Ibu Negara hingga sebagai senator terpilih dari negara bagian New York menjadi modal utama dalam pemerintahannya nanti.
Tapi itupun dipertanyakan. Semua tahu bahwa pemerintahan G.W Bush didominasi oleh Wapressnya, Dick Cheney, yang telah melanglang buana dalam struktur pemerintahan Amerika. Toh, berbagai kebijakan yang dihasilkan dapat dikatakan justeru membawa bencana bagi Amerika dan dunia saat ini.
Sebuah keharusan
Akhirnya, siapapun nantinya yang akan dipilih oleh komunitas Muslim, memilih memang menjadi sebuah keharusan dalam konteks masa kini. Perdebatan klasik tentang boleh tidaknya seorang muslim untuk berpartisipasi dalam tatanan politik sekuler, seharusnya dikesampingkan demi kepentingan yang lebih besar.
Sebagaimana disebutkan oleh banyak kalangan, kebijakan-kebijakan pemerintahan G.W. Bush yang sangat dilandasi oleh emosi 11 September, telah kehilangan pertimbangan rasional dan mata nurani. Atas nama keamanan (security), baik domestik maupun internasional, dilahirkan berbagai kebijakan yang secara langsung atau tidak mematikan kapasitas Amerika sebagai negara percontohan, khususnya dalam hal hak-hak dasar manusia (human rights).
Bahkan lebih jauh kebijakan-kebijakan itu membawa dampak negative dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun sosial. Yang lebih terasa adalah imej Amerika di mata internasional sangat jatuh.
Hal ini menjadi alasan mengapa komunitas Muslim Amerika harus melakukan hak pilihnya. Intinya, dengan melakukan hak pilihnya, komunitas Muslim dapat menjadi pendorong untuk mewujudkan janji-janji politik semua kandidat dalam perubahan. Kata “perubahan” itu sendiri sebenanrnya merupakan “tamparan keras” bagi pemerintahan G.W. Bush yang segera perlu diakhiri.
Dari pandangan Islam sendiri, dan dengan melihat kepada keadaan sekarang ini, memilih calon presiden yang dianggap paling “credible” untuk segera menggantikan administrasi sekarang adalah sebuah keharusan. Minimal ada 4 alasan utama:
Pertama, konsep “Amar ma’ruf dan nahi mungkar”. Ikut dalam memilih calon presiden Amerika yang lebih baik dalam kebijakan-kebijakan nya menjadi perangkap efektif untuk mengurangi atau menghapus berbagai “kemungkaran” dalam berbagai kebijakan pemerintah Amerika saat ini.
Kedua, dalam kaedah usul fikh disebutkan, “apa-apa yang sebuah kewajiban tidak tercapai, juga menjadi sebuah kewajiban” (ma laa yatimmu alwajibu illa bihi fahuwa wajib). Menghentikan berbagai kebijakan yang dianggal tidak adil (zalim) adalah kewajiban. Dan proses politik adalah pendekatan yang paling efektif untuk melakukan itu.
Ketiga, konsep “ta’awun alal birri wattaqwa” (tolong-tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan).
Umat Islam di Amerika harus membangun jaringan kerjasama dengan “the like-minded people” untuk melakukan perubahan administrasi yang tidak menguntungkan. Koalisi dengan mereka dalam memilih calon yang terbaik adalah jalannya.
Keempat, bahwa seorang Muslim di mana saja hidup dia berkewajiban untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat yang “ahsan” (terbaik). Umat Islam di Negara ini, baik imigran maupun terlahir di bumi Amerika, memiliki kewajiban untuk menjadikan Amerika sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang. Presiden adalah orang pertama untuk menjadikan negara ini terbaik, dan oleh karenanya memilih presiden yang baik adalah menjadi sebuah keharusan.
Dengan demikian, tidak diragukan bahwa komunitas Muslim Amerika dapat melakukan peranan besar untuk mewujudkan perubahan yang dijanjikan oleh para kandidat presiden Amerika. Tapi hal ini dapat terwujud jika disadari bahwa bersikap pro aktif, termasuk dalam proses politik di Amerika adalah sebuah kerja mulia, bukan sebaliknya. Tapi mampukah kita menembus “wawasan” berfikir konvensional yang selalu melihat bahwa politik adalah “jahat?”.
Tentu tergantung bagaimana dan dari prospektif mana kita menilai!
New York, 2 Pebruari 2008
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com
Tragedi 11 September, bagi komunitas Muslim memang menjadi awal mala petaka yang hampir tidak berkesudahan. Tidak saja karena memang tidak sedikit juga dari kalangan umat Islam yang menjadi korbannya.
Tapi yang paling menyakitkan adalah seolah umat ini tidak menjadi bagian dari korban (victims). Bahkan sebaliknya, dituduh atau minimal dipersepsikan secara sistimatis sebagai pelaku, sponsor, atau menyetujui dan senang dengan kewajiban tersebut.
Sejak itu pula komunitas Muslim berada pada posisi “depensive”, dan dari hari ke hari semakin tersudutkan. Tersudutkan oleh berbagai kebijakan pemerintah, tersudutkan oleh pemberitaan media massa, tersudutkan oleh imej dan persepsi masyarakat luas tentang agama mereka, dan bahkan tersudutkan oleh persepsi mereka terhadap diri mereka sendiri. Maksud saya, karena sedemikian dahsyatnya berbagai tuduhan itu, seolah semua itu menjadi kebenaran mutlak yang tidak mungkin di tantang (challenged) , dan karenanya harus diterima apa adanya, termasuk oleh kaum Muslim sendiri.
Afiliasi Partai
Secara umum, masyarakat Muslim di Amerika tidak berafiliasi buta kepada salah satu dari dua partai politik besar Amerika, Demokrat dan Republikan.
Sebagian memang ada yang demokrat, seperti warga Muslim Afro Americans. Namun tidak sedikiti juga yang berafiliasi ke partai Republikan.
Mereka yang memilih berafiliasi dengan partai Demokrat menilai bahwa partai ini dalam sejarahnya memang lebih bersahabat dengan warga minoritas, termasuk di
dalamnya umat Islam. Selain itu, dari perspektif idiologi, kaum Demokrat tidak dibajak oleh idiologi Kristen fundamentalis dalam kebijakan-kebijakan nya.
Di lain pihak, mereka yang memilih untuk berafiliasi dengan partai republikan didorong oleh pandangan-pandangan konservatisme Repubikan dalam berbagai isu sosial, isu aborsi dan perkawinan sejenis misalnya. Bahwa secara moral, idiologi partai Republikan lebih cenderung kepada konsep-konsep agama secara umum.
Namun dapat dipastikan, pada pemilu kali ini mayoritas, jika tidak semuanya, pemilih dari kalangan komunitas Muslim akan memilih calon dari Demokrat.
Sebabnya adalah prustrasi dan perasaan kecewa yang sangat dalam atas apa yang dianggap oleh komunitas Muslim sebagai “pengkhianatan” capres Republikan ketika itu, George W. Bush. Kumpulan suara (block voting) umat Islam di tahun 2000 yang diberikan kepada calon presiden Bush ketika itu, ternyata dikhianati oleh Presiden Bush dengan berbagai kebijakan di kemudian hari yang merugikan umat Islam.
Br. Habib Ahmed adalah Presiden dari ICLI (Islamic Center of Long Island) dan Dr. Wadud Bhuya adalah Presiden dari JMC (Jamaica Muslim Center) adalah contoh hal di atas. Keduanya adalah registered republicans. Tapi keduanya ikut pada acara temu muka dengan wakil-wakil dari capres dari partai Demokrat baru-baru ini dan masing-masing menyatakan mendukung salah satu dari dua calon kuat partai Demokrat itu.
Prustrasi dan kekecewaan masyarakat Muslim kepada pemerintahan Bush berdampak luas kepada pandangan dan sikap mereka dalam pemilu kali ini. Untuk itu, dapat dipastikan bahwa mayoritas, jika tidak semuanya, suara umat Islam akan diberikan kepada calon dari partai Demokrat kali ini. Dalam sebuah pertemuan yang dikelolah oleh American Muslim Democratic Club baru-baru ini yang dihadiri wakil-wakil dari Barack Obama, Hillary Clinton dan John MacCain, hadir beberapa Muslim yang registered Republicans tapi menyatakan akan memilih Demokrat pada pemilihan presiden mendatang.
Penentuan pilihan
Dalam politik ternyata memang ada gap (jurang) antara idealisme dan realita. Idealnya umat Islam harus memiliki calonnya sendiri untuk maju ke perebutan kursi kepresidenan. Sayang, realita mengatakan bahwa hal itu masih belum memungkinkan, dan barangkali justeru akan merugikan komunitas Muslim itu sendiri.
Kerugian yang kita maksud tentunya adalah, selain umat Islam memang belum siap bersatu di bawah satu atap partai politik, juga karena tingkat kesalah pahaman masyarakat kepada agama ini dan pemeluknya sangat tinggi.
Maka, memaksakan diri untuk memiliki calon sendiri sama dengan melakukan sesuatu yang sia-sia. Namun demikian, di sisi lain sebenarnya ada positifnya.
Dengan adanya calon yang beragama Islam, masyarakat Amerika akan melihat agenda sesungguhnya yang ada di benak kaum Muslimin. Bahwa kaum Muslimin dalam melakukan perjuangan tidak ekslusif, tapi sebaliknya, bertujuan untuk memperjuangkan “American interest” (kepentingan Amerika). Dan ini akan membangun “trust” (kepercayaan) di kalangan masyarakat Amerika untuk calon-calon masa depan, sekaligus dapat membangun “self confidence” (percaya diri) umat islam itu sendiri.
Namun secara realita, nampaknya memang belum masanya untuk memajukan calon dari kalangan warga Muslim.
Maka, yang paling realistik untuk dilakukan oleh masyarakat Muslim adalah memilih calon presiden yang paling dekat kepada idelisme dan cita-cita Islam.
Kalau ternyata secara idealisme tidak ada, maka yang dipilih adalah calon yang kecil mudharatnya. Maksud saya adalah calon yang kira-kira tidak menempatkan umat Islam pada sisi yang beseberangan, khususnya dalam konteks perang terhadap terorisme.
Dari semua ini, nampaknya pilihan masyarakat Muslim Amerika kali ini memang menjadi pilihan yang dilematis. Dari seluruh kandidat yang ada, nampaknya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Maka, untuk menentukan pilihannya, komunitas Muslim akan melihat secara teliti siapa di antara kandidat yang paling paling sedikit mudharatnya (akhaf ad dhoraraen).
Sebagaimana disebutkan terdahulu, secara pertimbangan moral sosial, komunitas Muslim cenderung untuk memilih kadindat Republikan yang dinilai lebih konservativ.
Tapi dengan melihat kepada berbagai relaita pahit yang terjadi saat ini, khususnya jika melihat kepada kebijakan luar negeri, dan lebih khusus lagi relasinya dengan perang Timur Tengah dan isu Israel-Palestina, juga termasuk apa yang disebutkan sebagai “war on terrorism” nampak bahwa capres dari partai Demokrat jauh lebih bersahabat.
Kandidat Demokrat dalam berbagai visinya dapat dikatakan lebih “manusiawi” (humanis) dan rasionaol dalam menawarkan berbagai kebijakan luar negerinya.
Sementara capres dari partai Republikan lebih kaku dan dahkan cenderung tidak rasional, dan lebih berbahaya, mereka sangat dipengaruhi oleh idiologi Kristen radikal, Evangelist, yang memang pendukung utama negara Israel.
Hillary atau Barack?
Dengan mundurnya John Edward dari persaingan pencalonan dari partai Demokrat, kini tinggal dua kandidat dari partai ini yang akan dipilih. Dari kedua calon ini, manakah yang lebih cenderung dipilih oleh masyarakat Muslim?
Menimbang-nimbang dua kandidat ini memang cukup rumit. Secara umum, masyarakat Muslim cenderung untuk menjatuhkan pilihannya pada Barack Obama.
Pertimbangannya bukan karena ras, gender, dan bukan pula karena adanya keterkaitan latar belakang keluarga ayah Obama yang Muslim. Tapi memang visi yang diajukan Obama nuansanya lebih menjamin perubahan yang dijanjikan.
Barack Obama memang memiliki daya tarik luar biasa. Umurnya yang masih relative muda, cerdik dan tajam dalam menganalisa berbagai isu yang ada. Walaupun ada kekhawatiran bahwa Obama masih kurang berpengalaman, namun melihat kepada pandangan-pandangan nya yang tajam mengurangi kekhawatiran tersebut. Memang dalam berbagai debat politiknya, isu “experience versus judgment” menjadi isu hangat. Hillary merasa lebih berpengalaman, tapi sebaliknya Obama yakin dengan pandangan-pandangan nya yang lebih akurat.
Selain itu, penentangan Obama kepada perang Iraq dari awal juga memberikan kontribusi yang besar dalam kampanyenya. Sementara Hillary dipaksa oleh situasi untuk menyesali dukungannya kepada presiden Bush untuk menyerang Iraq di masa lalu. Hillay berada pada posisi defensive jika dihadapkan kepada realita bahwa dirinya pernah mendukung penyerangan Iraq dengan mengatakan “kalau saja saya tahu ketika itu bahwa akibatnya seperti saat ini, pasti saya tidak akan memberikan dukungan saya”. Sayang pernyataan itu oleh sebagian dinilai “nasi sudah terlanjur menjadi bubur”.
Hal lain yang menjadikan sebagian besar masyarakat Muslim mendukung Obama adalah sikapnya yang selalu mendahulukan “diplomasi” di atas penyelesaian militer.
Bahkan dalam banyak kesempatan, Obama selalu mengatakan “we must be courageous to speak to our friends and to our enemies”. Keinginan baik untuk membangun komunikasi ini sendiri, termasuk dengan mereka yang dianggap musuh-musuh Amerika seperti Iran, adalah sikap positif. Komunitas Muslim cukup muak dengan kebijakan luar negeri Bush yang selalu mengedepankan aksi militer.
Di lain pihak, memang ada kekhawatiran dari beberapa kalangan bahwa Obama kemungkinan besar tidak akan terpilih. Alasannya, Amerika belum siap dipimpin oleh seseorang non White (selain warga kulit putih). Hal ini mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Jika kita melihat kepada kepada demografi pemilih Obama, juga tidak kurang dari warga kulit putih yang memilihnya.
Contoh terdekat barangkali adalah IOWA. Sebaliknya, ada juga kekhawatiran bahwa Amerika hingga kini belum siap dipimpin oleh seorang wanita.
Pada akhirnya memang, calon pemilih sibuk mendiskusikan antara pengalaman Hillary dan ketajaman “pertimbangan” (judgment) Obama. Hillary yang dianggap telah lama melanglang buana di Washington DC, sejak sebagai Ibu Negara hingga sebagai senator terpilih dari negara bagian New York menjadi modal utama dalam pemerintahannya nanti.
Tapi itupun dipertanyakan. Semua tahu bahwa pemerintahan G.W Bush didominasi oleh Wapressnya, Dick Cheney, yang telah melanglang buana dalam struktur pemerintahan Amerika. Toh, berbagai kebijakan yang dihasilkan dapat dikatakan justeru membawa bencana bagi Amerika dan dunia saat ini.
Sebuah keharusan
Akhirnya, siapapun nantinya yang akan dipilih oleh komunitas Muslim, memilih memang menjadi sebuah keharusan dalam konteks masa kini. Perdebatan klasik tentang boleh tidaknya seorang muslim untuk berpartisipasi dalam tatanan politik sekuler, seharusnya dikesampingkan demi kepentingan yang lebih besar.
Sebagaimana disebutkan oleh banyak kalangan, kebijakan-kebijakan pemerintahan G.W. Bush yang sangat dilandasi oleh emosi 11 September, telah kehilangan pertimbangan rasional dan mata nurani. Atas nama keamanan (security), baik domestik maupun internasional, dilahirkan berbagai kebijakan yang secara langsung atau tidak mematikan kapasitas Amerika sebagai negara percontohan, khususnya dalam hal hak-hak dasar manusia (human rights).
Bahkan lebih jauh kebijakan-kebijakan itu membawa dampak negative dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun sosial. Yang lebih terasa adalah imej Amerika di mata internasional sangat jatuh.
Hal ini menjadi alasan mengapa komunitas Muslim Amerika harus melakukan hak pilihnya. Intinya, dengan melakukan hak pilihnya, komunitas Muslim dapat menjadi pendorong untuk mewujudkan janji-janji politik semua kandidat dalam perubahan. Kata “perubahan” itu sendiri sebenanrnya merupakan “tamparan keras” bagi pemerintahan G.W. Bush yang segera perlu diakhiri.
Dari pandangan Islam sendiri, dan dengan melihat kepada keadaan sekarang ini, memilih calon presiden yang dianggap paling “credible” untuk segera menggantikan administrasi sekarang adalah sebuah keharusan. Minimal ada 4 alasan utama:
Pertama, konsep “Amar ma’ruf dan nahi mungkar”. Ikut dalam memilih calon presiden Amerika yang lebih baik dalam kebijakan-kebijakan nya menjadi perangkap efektif untuk mengurangi atau menghapus berbagai “kemungkaran” dalam berbagai kebijakan pemerintah Amerika saat ini.
Kedua, dalam kaedah usul fikh disebutkan, “apa-apa yang sebuah kewajiban tidak tercapai, juga menjadi sebuah kewajiban” (ma laa yatimmu alwajibu illa bihi fahuwa wajib). Menghentikan berbagai kebijakan yang dianggal tidak adil (zalim) adalah kewajiban. Dan proses politik adalah pendekatan yang paling efektif untuk melakukan itu.
Ketiga, konsep “ta’awun alal birri wattaqwa” (tolong-tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan).
Umat Islam di Amerika harus membangun jaringan kerjasama dengan “the like-minded people” untuk melakukan perubahan administrasi yang tidak menguntungkan. Koalisi dengan mereka dalam memilih calon yang terbaik adalah jalannya.
Keempat, bahwa seorang Muslim di mana saja hidup dia berkewajiban untuk menjadikan tempat itu sebagai tempat yang “ahsan” (terbaik). Umat Islam di Negara ini, baik imigran maupun terlahir di bumi Amerika, memiliki kewajiban untuk menjadikan Amerika sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang. Presiden adalah orang pertama untuk menjadikan negara ini terbaik, dan oleh karenanya memilih presiden yang baik adalah menjadi sebuah keharusan.
Dengan demikian, tidak diragukan bahwa komunitas Muslim Amerika dapat melakukan peranan besar untuk mewujudkan perubahan yang dijanjikan oleh para kandidat presiden Amerika. Tapi hal ini dapat terwujud jika disadari bahwa bersikap pro aktif, termasuk dalam proses politik di Amerika adalah sebuah kerja mulia, bukan sebaliknya. Tapi mampukah kita menembus “wawasan” berfikir konvensional yang selalu melihat bahwa politik adalah “jahat?”.
Tentu tergantung bagaimana dan dari prospektif mana kita menilai!
New York, 2 Pebruari 2008
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com
Senin, 26 November 2007
Urgensi dan Keutamaan Qiyamul Lail
Ada yang penting buat dibaca nih...suer deh...
Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya) dan itu setiap malam.” (H.R. Muslim dan Ahmad)
Qiyamul lail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, merasa lezat di kala munajat dengan penciptanya, ia berdoa, beristighfar, bertasbih dan memujinya. Akhirnya
Qiyam al-lail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, merasa lezat dikala munajat dengan penciptanya, ia berdo’a, beristighfar, bertasbih dan memujinya. Akhirnya yang maha pengasih lagi maha penyayang mempermudah semua aspek kehidupan hambanya baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Begitu pula aspek da’wah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Dia akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati sesama dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.
QIYAM AL-LAIL MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Orang yang kontinyu mengerjakan qiyam al-lail pasti dicintai dan dekat dengan Allah
“lazimkan dirimu untuk shalat malam, karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit dan pencegah dari dosa”
(HR. Ahmad)
Dapat dipahami bahwa qiyam al-lail selain medekatkan diri kepada Allah dapat mencetak keshalihan dan selamat zhahir dari penyakit dan batin dari lumuran dosa.
Dari sahal bin Sa’ad ra, ia berkata :
“Malaikat Jibril as datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Wahai Muhamad hiduplah sebebas-bebasnya akhirnyapun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mu’min dapat diraih dengan melakukan shalat malam dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain”.
Seorang diri ingin mulia disisi Allah dan disisi manusia hendaknya ia membiasakan qiyam al-lail, bahkan akan berwajah ceria, karena dia bermunajat dengan ar-rahman maka terpancarlah nur dari wajahnya.
QIYAM AL-LAIL PENYEBAB MASUK SURGA
Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin salam dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Wahai manusia sebarkanlah salam, berikanlah makanan dan shalt malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian kan masuk surga dengan selamat”.
Seorang da’i yang ingin berhasil da’wahnya harus menabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, mengucapkan salam, mengulurkan bantuan dan silatu al-rahim dan pada malam hari memohon kepada Allah diawali dengan qiyam al-lail , namun mereka yang kontinyu melaksankan qiyam al-lail sangat sedikit jumlahnya, semoga kita termasuk kelompok ini yang dapat masuk surga tanpa dihisab.
Rasululah SAw bersabda :
“Seluruh manusia dikumpulkan ditanah lapang pada hari qiyamat . Tiba ada panggilan dikumandangkan dimana orang yang meninggalkan tempat tidurnya, maka berdirilah mereka jumlahnya sangat sedikit , lalu masuk surga tanpa hisab, baru kemudaian seluruh manusia diperintah untuk diperiksa”.
KIAT-KIAT MEMPERMUDAH QIYAM AL-LAIL
Qiyam al-lail memerlkan kesungguhan dan kebulatan tekad, jika demikian akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah, berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat dengan yang maha pengasih.
1. Memprogram aktivitas 24 jam
2. Memaham kebutuhan jasmani, aqli dan ruhani dan diberikan dengan seimbang
3. Menghindari ma’siat. Sufyan Ats-tsauri berkata : “saya sulit sekali melakukan qiyam al-lail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan”
4. Megetahui fadhilah dan keistimewaannya
5. Mempunyai perasaan bermunajat dengan Allah yang maha kasih sayang
Inilah yang dapat disajikan kepada ikwan-akhwat tentang urgensi , keutamaan dan kiat-kiat qiyam al-lail. Semoga memberikan motivasi kepada kita menjadi orang yang dekat dengan Allah, mulya disisi Allah dan disisi manusia yang akhirnya menjadi penghuni surga.(kaderisasi DPP PeKaSe)
Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya) dan itu setiap malam.” (H.R. Muslim dan Ahmad)
Qiyamul lail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, merasa lezat di kala munajat dengan penciptanya, ia berdoa, beristighfar, bertasbih dan memujinya. Akhirnya
Qiyam al-lail merupakan sarana berkomunikasi seorang muslim dengan Rabbnya, merasa lezat dikala munajat dengan penciptanya, ia berdo’a, beristighfar, bertasbih dan memujinya. Akhirnya yang maha pengasih lagi maha penyayang mempermudah semua aspek kehidupan hambanya baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Begitu pula aspek da’wah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Dia akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati sesama dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.
QIYAM AL-LAIL MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Orang yang kontinyu mengerjakan qiyam al-lail pasti dicintai dan dekat dengan Allah
“lazimkan dirimu untuk shalat malam, karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit dan pencegah dari dosa”
(HR. Ahmad)
Dapat dipahami bahwa qiyam al-lail selain medekatkan diri kepada Allah dapat mencetak keshalihan dan selamat zhahir dari penyakit dan batin dari lumuran dosa.
Dari sahal bin Sa’ad ra, ia berkata :
“Malaikat Jibril as datang kepada Nabi SAW lalu berkata : Wahai Muhamad hiduplah sebebas-bebasnya akhirnyapun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mu’min dapat diraih dengan melakukan shalat malam dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain”.
Seorang diri ingin mulia disisi Allah dan disisi manusia hendaknya ia membiasakan qiyam al-lail, bahkan akan berwajah ceria, karena dia bermunajat dengan ar-rahman maka terpancarlah nur dari wajahnya.
QIYAM AL-LAIL PENYEBAB MASUK SURGA
Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin salam dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Wahai manusia sebarkanlah salam, berikanlah makanan dan shalt malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian kan masuk surga dengan selamat”.
Seorang da’i yang ingin berhasil da’wahnya harus menabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, mengucapkan salam, mengulurkan bantuan dan silatu al-rahim dan pada malam hari memohon kepada Allah diawali dengan qiyam al-lail , namun mereka yang kontinyu melaksankan qiyam al-lail sangat sedikit jumlahnya, semoga kita termasuk kelompok ini yang dapat masuk surga tanpa dihisab.
Rasululah SAw bersabda :
“Seluruh manusia dikumpulkan ditanah lapang pada hari qiyamat . Tiba ada panggilan dikumandangkan dimana orang yang meninggalkan tempat tidurnya, maka berdirilah mereka jumlahnya sangat sedikit , lalu masuk surga tanpa hisab, baru kemudaian seluruh manusia diperintah untuk diperiksa”.
KIAT-KIAT MEMPERMUDAH QIYAM AL-LAIL
Qiyam al-lail memerlkan kesungguhan dan kebulatan tekad, jika demikian akan sangat mudah merealisasikannya dengan izin Allah, berikut ini kiat-kiat pendorong meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat dengan yang maha pengasih.
1. Memprogram aktivitas 24 jam
2. Memaham kebutuhan jasmani, aqli dan ruhani dan diberikan dengan seimbang
3. Menghindari ma’siat. Sufyan Ats-tsauri berkata : “saya sulit sekali melakukan qiyam al-lail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan”
4. Megetahui fadhilah dan keistimewaannya
5. Mempunyai perasaan bermunajat dengan Allah yang maha kasih sayang
Inilah yang dapat disajikan kepada ikwan-akhwat tentang urgensi , keutamaan dan kiat-kiat qiyam al-lail. Semoga memberikan motivasi kepada kita menjadi orang yang dekat dengan Allah, mulya disisi Allah dan disisi manusia yang akhirnya menjadi penghuni surga.(kaderisasi DPP PeKaSe)
Kamis, 22 November 2007
Memberi Kemudahan=Mendapat Kemudahan
Assalamu'alaikum alhamdulillah akhirnya saya bisa ngisi lagi di blog...
Belakangan ini anda sering merasa gagal dalam melakukan sesuatu?
atau anda sering merasa kesulitan dalam menyelesaikan sesuatu?
nah kayanya saya punya solusinya...gampang aja seh...singkatnya kalo anda ngasih kemudahan sama orang lain berarti anda juga bakalan dapet satu kemudahan dari Allah. Subhanallah. Ternyata Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang telah kita lakukan sama orang lain.Buat anda yang masinh merasa susah dalam menyelesaikan sesuatu,Nah coba deh di inget-inget jangan jangan kita emang kagak pernah menolong atau berbuat baik sama orang lain.Sebenernya nggak susah kok berbuat baik sama orang lain tu,anda mau denger curhatnya aja sudah sebuah kebaikan, apalagi kalo anda sampai bisa bantu nyelesein masalahnya ampe tuntas.salute deh buat you...gimana, gampang kan???
Jadi tunggu apalagi..ayo berbuat baik dan berbagi dengan saudara-saudara kita...(ikhwan dengan ikhwan dan akhwat dengan akhwat donk...^_^)
"SELAMAT BERBAGI..."
Belakangan ini anda sering merasa gagal dalam melakukan sesuatu?
atau anda sering merasa kesulitan dalam menyelesaikan sesuatu?
nah kayanya saya punya solusinya...gampang aja seh...singkatnya kalo anda ngasih kemudahan sama orang lain berarti anda juga bakalan dapet satu kemudahan dari Allah. Subhanallah. Ternyata Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang telah kita lakukan sama orang lain.Buat anda yang masinh merasa susah dalam menyelesaikan sesuatu,Nah coba deh di inget-inget jangan jangan kita emang kagak pernah menolong atau berbuat baik sama orang lain.Sebenernya nggak susah kok berbuat baik sama orang lain tu,anda mau denger curhatnya aja sudah sebuah kebaikan, apalagi kalo anda sampai bisa bantu nyelesein masalahnya ampe tuntas.salute deh buat you...gimana, gampang kan???
Jadi tunggu apalagi..ayo berbuat baik dan berbagi dengan saudara-saudara kita...(ikhwan dengan ikhwan dan akhwat dengan akhwat donk...^_^)
"SELAMAT BERBAGI..."
Langganan:
Postingan (Atom)





